Permasalahan Energi dan Solar Cell

 Permasalahan Energi dan Solar Cell

Energi adalah salah satu tantangan yang kita hadapi pada abad 21 ini. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Professor Ricards Smalley dari Rice University mengenai masalah terbesar yang akan dihadapi manusia untuk 50 tahun mendatang, ternyata energi menduduki peringkat pertama. Cadangan sumber energi fosil di seluruh dunia terhitung sejak 2002 yaitu 40 tahun untuk minyak, 60 tahun untuk gas alam, dan 200 tahun untuk batu bara. Dengan keadaan semakin menipisnya sumber energi fosil tersebut, di dunia sekarang ini terjadi pergeseran dari penggunaan sumber energi tak terbaharui menuju sumber energi yang terbahurui. Dari sekian banyak sumber energi terbahurui seperti angin, biomass dan hydro power, penggunaan energi melalui solar cell / sel surya merupakan alternatif yang paling potensial. Hal ini dikarenakan jumlah energi matahari yang sampai ke bumi sangat besar, sekitar 700 Megawatt setiap menitnya. Bila dikalkulasikan, jumlah ini 10.000 kali lebih besar dari total konsumsi energi dunia. Sel surya bekerja menggunakan energi matahari dengan mengkonversi secara langsung radiasi matahari menjadi listrik. Sel surya yang banyak digunakan sekarang ini adalah Sel surya berbasis teknologi silikon yang merupakan hasil dari perkembangan pesat teknologi semikonduktor elektronik.

Indonesia merupakan Negara Kepulauan Yang Terdiri dari ± 17.508 pulau besar dan kecil dengan garis pantai sepanjang ± 810.000 km dan luas 3.1 juta km2. Dengan jumlah desa lebih dari 65.000 desa yang tersebar luas dibelasan ribu pulau tersebut, hanya kurang dari setengahnya yang telah menikmati jaringan listrik negara seperti didaerah-daerah lain masih jauh dari harapan, sebagian besar dari mereka masih menggunakan lampu minyak tanah/patromak untuk penerangan. Untuk memperoleh informasi dari Radio mereka menggunakan batu batere, sedangkan untuk televisi adakalanya mereka menggunakan accu/aki yang charge didaerah yang ada listrik generator dengan berjalan yang cukup jauh.

Sian siarsam samosir: Raja Nainggolan

Pada kondisi seperti sekarang ini, pemerintah kita diperkirakan masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat mensuplai listrik keseluruh desa Indonesia. Penggunaan mesin diesel meskipun sangat praktis tapi memiliki beberapa kekurangan, diantaranya adalah (i) ketersediaan bahan bakar solar tidak dapat berkesinambungan dan sangat tergantung pada jalur transportrasi ke pulau, (ii) biaya yang dikeluarkan untuk operasional mesin diesel sangat besar sehingga harus ditanggung bersama oleh seluruh pengguna, dan selain itu penggunaan mesin diesel meskipun pengaruhnya kecil dapat menimbulkan pencemaran ke ekosistem pedesaan. Selain itu ketergantungan terhadap bahan bakar dapat menambah beban hidup masyarakat kerena kenikan BBM secara otomatis akan menambah ekonomi masyarakat sedangkan ekonomi potensi sumber daya alam tidak meningkat sering dengan kenikan BBM.

Masyarakat di pedesaan yang memiliki tingkat ketergantungan terhadap bahan bakar sangat tinggi. Hampir di dalam keseharian masyarakat baik untuk kehudupan sehari-hari maupun dalam proses produksi selalu membutuhkan bahan bakar. Bahan bakar dibutuhkan untuk penerangan petromaksdan lampu teplok.

Dengan telah dikembangkan teknologi yang menggunakan energi alternatif untuk penerangan didaerah-daerah terpencil seperti energi dari tenaga matahari, angin dan gelombang dapat digunakan sebagai sumber energi. Penggunaan Listrik Tenaga Surya (PLTS) Telah dikenal di Indonesia pada tahun 1970. penggunaan PLTS telah diaplikasikan pada beberapa daerah di Indonesiahingga pada tahun 2002 hampir diseluruh di Indonesia telah mamaatkan fasilitas ini. Penggunaan teknologi ini sangat membantu dalam mempercapat pembangunan ekonomi dan infrastruktur penerangan di wilayah desa yang terpencil.

Untuk kawasan pulau-pulau yang sangat terpencil aplikasi teknologi ini sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat seperti : penerangan, pompa air TV umum, komunikasi, vaccine storage, lampu bagang, sound system rumah ibadah, dan lain sebagainya.

Beberapa hambatan utama program listrik masuk desa, terutama untuk daerah-daerah yang lokasinya sangat terpencil, antara lain adalah biaya investasi yang terlalau tinggi untuk membangun pembangkit tersebut, terlalu kecilnya kebutuhan listrik untuk daerah-daerah tertentu, dan kelangkaan bahan bakar didaerah setempat untuk pembangkit tenaga listrik. Oleh karena itu, penyediaan listrik melalui pembangkit listrik konvensional menjadi usaha yang sulit untuk di laksanakan diberbagai daerah. Pembangkit Tenaga Listrik Surya (Solar Home System) diperkiraan dapat menjadi solusi alternatif sebagai penyedia listrik di desa-desa yang terpencil tersebut.

Kemajuan teknologi dalam bidang konversi energi, khususnya teknologi fotofoltaik, diharapkan dapat mewujudkan harapan masyarakat didesa-desa terpencil, misalnya berdomisili di pedesaan yang terpencil dan didaerah-daerah pesisir, untuk menikmati listrik seperti daerah lain. Dengan teknologi pembangkit listrik tenaga fotovoltaik, cahaya matahari dapat diubah menjadi energi listrik DC dengan bantuan Panel Surya/solar cell.

Aplikasi pemggunaan energi surya fotovoltaik sangatlah banyak, diantaranya untuk penerangan, radio, televisi, pompa air, alat telekomunikasi, kulkas untuk menyimpan vaksin, dan lain-lain. Energi surya akan sangat sesuai untuk negara-negara yang yang dikaruniai dengan radiasi matahari sepanjang tahun.

Energi surya dapat digunakan dalam bentuk aplikasi tunggal/individu (sistem desentralisasi) atau kolektif (sistem sentralisasikan). Sistem aplikasikan kolektif, meskipun dapat memasok listrik untuk seleruh desa, dirasakan tidak sesuai karena terlalu banyak kehilangan listrik dalam proses distribusinya, Rumah yang jaraknya paling jauh dari setasiun pembangkit akan menerima listrik paling sedikit. Sebaiknya, sistem individu seperti Solar Home System (SHS) tidak akan mengganggu aliran listrik ke rumah-rumah lain karena sifatnya yang berdiri sendiri.

Energi surya dapat menguntungkan masyarakat secara keseluruhan, keberadaan energi surya disuatu desa meungkinkan dilakukan penyimpanan vaksin di dalam kulkas PUSKESMAS. Energi surya dapat pula menjadi sumber listrik untuk aplikasi sistem telekomunikasi desa, televisi umum di balai desa, lampu-lampu penerang jalan, dan pompa air minum. Setiap SHS terdiri atas satu modul surya 50 Wp, cukup untuk menghidupkan 3 buah lampu TL dan sebuah televisi hitam putih atau radio.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transformator - Part 1.Defenisi

Transformator - Part 4. RANGKAIAN EKIVALEN TRANSFORMATOR